Iwanbanaran.com – Cakkkk…akhirnya rahasia Fabio mampu kencang diatas M1 dibuka secara blak-blakan oleh Dovi. Menjadi pembalap yang gagal taklukkan M1 dan akhirnya memutuskan mundur alias menyerah membela tim garputala, pembalap mantan Ducati tsb blak-blakan menuturkan bahwa M1 memang beda…”Motor ini beda” serunya. Apa maksudnya ? simak detilnya dibawah ini…

Adrea Divisiozo, pasti semua setuju pembalap ini luar biasa. Sekarang Dovi berusia 36 tahun dan kini menjadi pembalap tertua di line up Motogp. Dovi terpaut tujuh tahun dari Marc Marquez. Dengan usia segitu, Dovi sudah banyak makan asam garam…pernah nunggang Honda, Yamaha, Ducati dan kembali lagi ke Yamaha. Sayang kembalinya Dovi kepabrikan garputala pasca ditendang Ducati menyisakan kenangan sangat buruk baginya. Dovi terpuruk membuat semua orang bertanya…apa yang terjadi? Dan disinilah Dovi blak-blakan pasca mengumumkan doi bakal pensiun dari Yamaha mulai tahun depan. Menurutnya masalah terbesar sulitnya para pembalap Yamaha kecuali Fabio adalah M1 itu sendiri. Simak penururan Dovi berikut ini…

Jujur ketika pertama kali aku jajal motor Yamaha, aku sedikit terkejut. Motor ini beda….Aku langsung menemukan keanehan yakni masalah pada grip. Motor ini grip belakangnya sangat lemah. Itu adalah karakteristik terbesar yang aku coba lawan. Sayang aku belum menemukan cara mengendarai Yamaha. Aku tidak berhasil menggunakan potensi motor seperti Fabio [Quartararo]. Dia telah menunjukkan bahwa setiap balapan bisa kompetitif dan menang. Hanya saja sulit untuk melakukannya…” serunya via therace. Dovi menambahkan….

iklan iwb

“Aku banyak bekerja dengan tim…para mekanik Yamaha,….aku banyak mencoba, bahkan mungkin terlalu banyak yang aku lakukan namun celakanya kami masih berjuang walau kami sudah mengubah hal besar. Kondisi tsb seakan menegaskan bahwa gaya balapku tidak cocok dengan motor Yamaha...” tukasnya. Dovi mengakui…Impiannya untuk sukses bersama Yamaha sangat besar.  Mimpi yang katanya terinspirasi dari Valentino Rossi, Jorge Lorenzo dan Maverick Vinales namun ternyata tidak pernah terwujud. Dovi menegaskan proses adaptasi dengan M1 gagal total. Emang apa sih yang sebenarnya terjadi ??

Sebenarnya tidak perlu aku jelaskan gamblang jika kalian melihat pembalap (Yamaha) lain, kalian akan mendapatkan jawabannya. Aku memiliki banyak pengalaman untuk mengetahui bahwa mayoritas pembalap Yamaha kesulitan. Apa yang terjadi pada motor sangat jelas sejak awal dan aku tidak pernah mengubah pendapatku karena itu hal dasar dan aku bisa langsung merasakannya. Tidak ada pertanyaan tentang itu di benakku. Ceritanya selalu sama….

“ Aku cukup nyaman ketika bermanuver atau mengubah arah motor saat masuk tikungan, memang tidak istimewa tapi OK. Namun bagaimana kita bisa kencang adalah hal berbeda. Dengan Yamaha kalian harus kencang saat masuk dan speed harus dijaga ketika ditengah tikungan, disini kalian tidak bisa mengandalkan traksi belakang saat keluar tikungan. Jadi jika ingin kencang pembalap harus membawa kecepatan lebih di tengah tikungan sehingga keluar (Tikungan) bisa full speed. Jadi kita tidak bisa mengandalkan traksi belakang. Dan hal itu bagiku sangat sulit untuk dilakukan…

Mungkin Yamaha bagus di beberapa area karena Fabio telah menunjukkan kepada kami bahwa dia bisa melakukan hal luar biasa. Tapi menurutku itulah satu-satunya cara untuk menjadi cepat dengan motor ini. Jika kamu tidak full speed ditengah tikungan maka motor seperti tidak punya tenaga ketika keluar tikungan. Dengan kecepatan yang sama dengan motor lain….Yamaha seperti tidak berakselerasi. Jadi jika kamu tidak menjaga kecepatan di tengah tikungan, maka kamu tidak akan bisa cepat. Dia [Quartararo] benar-benar menari di setiap trek, dan itu satu-satunya cara untuk menjadi cepat dengan motor ini.…” tukas Dovi…

Dovi sendiri mengaku menyerah karena Yamaha seperti tidak mendengarkan keluhan pembalap lain. Sebab patokan mereka adalah Fabio, pembalap yang bisa meraih hasil bagus. Sedang bagi pembalap Yamaha lain…Fabio adalah pembalap yang bisa menutupi kekurangan M1. Tidak heran Dovi menyebut filosofi Yamaha sekarang sudah mirip dengan Honda yakni fokus pada satu pembalap….

Menurutku, Yamaha sekarang dalam situasi yang sangat mirip dengan Marc dan Honda dalam enam tahun terakhir. Aku tidak tahu apakah Yamaha memang memutuskan untuk berada dalam situasi ini, tetapi aku rasa Honda memutuskan untuk memilih cara ini karena Marc [dominan]. Jelas situasinya serupa – hanya satu pebalap yang dapat menggunakan potensi dan membuat celah yang sangat besar dibandingkan dengan pebalap lainnya yakni Fabio. Terbukti Kami telah mencoba mengubah banyak hal, tapi hasilnya negatif….

“ Jadi satu-satunya cara adalah mengubah “microchip” di kepalamu, mengendarai motor dengan cara tertentu, dan jujur aku tidak memilikinya saat ini. Aku mencoba untuk mengubahnya tetapi semua sia-sia…” tutup Dovi. Andrea Dovi sendiri sudah menyerah dan menyatakan mundur dan Yamaha setelah race Misano dan diganti Cal Cructhlow. Dovi sejauh ini hanya mengoleksi 10 angka pasca race Silverstone atau berada diurutan 22. Sementara Morbidelli sebagai rekan Fabio sedikit lebih baik dengan 26 poin atau berada diurutan 19 diklasemen sementara riders. Daryn Binder selaku tandem Dovi juga tidak kalah terpuruk karena mengoleksi 10 poin atau identik dengan Dovi….(iwb)

Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!

6 COMMENTS

Monggo sharing dibawah tanpa menghina Ras, Suku dan Agama