iklan iwb
iklan iwb
” Berhenti dan makan di warung Lamongan….”

Iwanbanaran.com – Cakkk…. sebagai blogger tua memang berat dan sudah cukup lama tidak mudik menggunakan motor. Ditambah setiap mudik selalu bersama ibu negara maka tidak ada jalan lain kecuali menggunakan roda empat. Namun beda dengan biasanya yang menggunakan Carli J Pajero lawas, mudik kali ini IWB tertantang mencoba jajal Red Paijo Mazda 2 skyactive. Pokoke IWB siap mental cak…mobil kecil pasti capek. Makanya rencananya kita akan berhenti di Semarang sebelum menuju ke Jawa Timur. Tapi ternyata rencana berubah. IWB nggak nyangka Mazda 2 kecil-kecil cabe rawit. Lhooo emange piyeeee ? cekidot feel totalnya cak !

Siapa sih yang PD menggunakan mobil sekecil itu melintasi Pantura. Bobot body yang hanya sekitar 1 ton dibandingkan dengan Pajero yang mencapai 2 ton tentu saja ada rasa minder sebelum kita menjelajah tol cipali hingga Jawa Timur. Mazda 2 skyactiv GT sendiri merupakan mobil kedua IWB yang sejatinya hanya untuk digunakan dalam kota karena mengejar irit dan kompak. Naik Pajero mumet ndase cak….kegedean. Kenapa nggak milih Honda Jazz RS atau Toyota Yaris yang nyata-nyata lebih terjangkau soal biaya dan perawatan?

Yang pertama IWB ogah pasaran. Mungkin soal ini bisa saja berubah mengingat biaya maintenance Mazda Memang luar biasa gila. Bayangkan saja ketika IWB hanya membutuhkan uang 1,5 juta untuk mengganti engine mounting Carli J Pajero Dakar, dengan Red Paijo Mazda 2 skyactiv sampeyan harus merogoh kocek hingga 6,7 juta alias nyaris 7 juta. Garuk-garuk alis sih cak…lha piye karet mounting 3 biji aja dijual 7 jutaan. Mazda kesurupan kieeee pasang harga jadi koyok wong nglindur. Contoh lain adalah harga aki yang mencapai 3,5 juta di saat Pajero hanya 1,6 juta rupiah. Ediann po ora jal. Alasannya karena akinya khusus guna mendukung fitur I-Stop yang disandang. Kuwi lho cak….kayak ISS atau SSS jika di Honda Yamaha. Engine tidur sementara jika berhenti di Lamer. Yahhh…..semua memang terbayarkan dengan seluruh kemewahan yang ditawarkan oleh Mazda…



Build quality yang jempolan, interior dalam dihiasi material soft touch serta stitching alias jahitan asli, sensor keamanan yang banyak banget seperti blind spot monitoring, lane departure warning system, I-Stop (seperti SSS dan ISS pada motor), smart city Brake support (SCBS), Rear Cross Traffic Alert (memberitahukan lalu lalang kendaraan saat kita mundur), rain sensor untuk auto wiper, head up unit display (HUD) dan masih banyak lagi lainnya yang tidak bisa IWB sebutkan satu persatu. Tapi IWB nggak akan bahas kuwi cak. Namun lebih kepada Driving experience pada saat mobil kecil ini digunakan melibas jalanan tol yang cukup panjang dengan total jarak berkisar 850 km. Yang pertama adalah….kestabilan !

IWB tidak menyangka city car sekecil ini termasuk stabil ketika digeber di atas 130 km per jam. Asli pakdeee…. mobil tidak terasa ngambang dan traksi ban depan terkontrol dengan sangat baik. Padahal ban yang IWB gunakan hanya sekelas Dunlop. Sensasi stir juga tidak membikin grogi karena secara elektronik ketika kecepatan makin tinggi Maka setir juga semakin berat. IWB merasakan downforce yang cukup besar di bagian depan ketika mobil melaju kencang sehingga grip terus terjaga dengan baik walau kita manuver zig zag pada high speed. Desain moncong yang cenderung panjang menukik ternyata memiliki tujuan untuk memberikan fell Driving selayaknya mobil sport..presisi dan tajam. Suspensi bisa dibilang tidak terlalu lembut bahkan cenderung rigid…

Dan disanalah kita baru merasakan sumbangsih karakter suspensi yang ternyata memberikan kestabilan di atas rata-rata city car. Goncangan pasti terasa (apalagi tol memang bumpy) namun tidak membuat badan capek sebab body roll sangat minim. Untuk road noise ketika mobil cruising di Kisaran 100 km per jam juga masih baik. Kekedapan diatas Honda Jazz namun sedikit di bawah Toyota Yaris. Satu poin yang cukup menonjol dari Mazda 2 skyactiv ini adalah tenaga yang seperti tidak pernah habis ketika digunakan untuk nanjak. Dengan komposisi transmisi yang cukup rapat karena menganut model AT 6 speed….wisss to cak, jiannn nyenengin puollll. Sensasi yang baru tereksplore setelah dipakai dijalanan naik turun gunung luar kota. Asyemmm bikin mata IWB blink-blink…

Tidak hanya itu, performa braking juga istimiwirrrr. IWB pernah beberapa kali harus melakukan Hard braking akibat truk yang tiba-tiba overtake dengan kecepatan “keong”di tol Cipali…duhhh wedhusssss tenan. Sontak injak rem…..dari speed 130 km/jam harus deselarate melorot ke 40 km/jam dengan jarak cukup pendek. Dilalah sekali colek rem langsung melakukan tugasnya dengan sangat baik, pakem namun natural….reaksi body mobil juga anteng tidak kedodoran. Seetttttttttt…..juozzz tenan ki Mazdaaaa….asyemmm maknyuzzzz kurang ajar ki mobil ! So berangkat dari rumah jam 8 pagi sekitar jam 2 siang kita sudah tiba di Semarang. Itu termasuk istirahat dan ajaibnya badan masih seger Bugar…

Piye…sik awan ki (masih siang), Jadi nginap di Semarang atau lanjut? “ tanya IWB ke Ibu negara. ” Koq cepet banget ya….badan masih seger mz…” cetus ibu negara. Kita pun heran karena kondisi fisik relatif segar jika dibandingkan nunggang Pajero. Mungkin karena tidak terlalu goyang. Dengan bodi ceper ke aspal memberikan sensasi lebih anteng dibandingkan dengan Pajero yang cukup tinggi. Dan akhirnya kita pun lanjut menuju ke Tulungagung Jawa Timur nonstop. Jika dikalkulasi kita hanya berhenti 3 kali untuk makan serta sholat. Selebihnya Gaspolllll. Tercatat sekitar jam 7 malam kita tiba di kampung halaman dengan hanya merogoh kocek 229 ribu untuk biaya bensin (Pertamax). Iritttt…!

” Red Paijo Pose dirumah limas milik almarhum kakek nenek. Disanalah dulu IWB dibesarkan sekitar 1980-an. Rumah tersebut sekarang teronggok tak berpenghuni hampir 20 tahun lamanya…..sedih cak…”

Full tank dari Jakarta…..Mengisi bensin 229.000 di Semarang dan tiba di Tulungagung bensin hanya turun 2 bar alias masih tersisa 3/4 tangki yang mencapai 44 liter. Wottttt….sadiz ki. Maklum cak…biasanya IWB menghabiskan uang sekitar 900 ribu – sejuta ketika menggunakan Carli J Pajero Dakar (Pertamina Dex). So…. jika dikalkulasi konsumsi BBM jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya tol Pantura yang mencapai 800.000 sekali jalan. Kalau diintip di MID konsumsi BBM rata-rata 15,8 km/liter alias nyaris 16 km/liter. Tapi nggak tahu…koq perasaan lebih irit dilapangan ya…

Kelebihan Mazda 2 skyactiv adalah Driving experience yang fun to drive…. body lincah dan stabil tanpa ditemukan body roll sama sekali….mesin yang jempolan karena nafas seperti tanpa habis…. termasuk rem yang Pakem karena sudah dibekali dengan disk brake depan belakang. Sensor keamanan yang banyak banget juga membuat kita terasa aman serta nyaman. Yang sangat signifikan membantu adalah hadirnya fitur blind spot monitoring. Seperti driver assistant yang selalu siap membantu di saat spion Memiliki keterbatasan. Mungkin siang nggak terlalu signifikan tapi saat malam disaat visibilitas turun drastis, kehadiran BSM sangat membantu kita….

” Dipinggir jalan desa Mojosari Tulungagung beli sate cak, napak tilas judule….”

Mau geser posisi, sensor mobil akan memberikan warning lewat kedipan menyala dispion jika ada object disamping mobil melaju kencang. BSM akan mengeluarkan alarm halus jika object terlalu dekat. Makanya membantu banget kangbro. Sayang Mazda 2 versi facelift 2020 malah mengalami kemunduran. Banyak fitur yang disunat demi menekan banderol. Membuang fitur LDWS, Rear Cross Traffic Alert dan air bag dipangkas dari 6 menjadi 2…harga Mazda 2 GT sekarang kisaran 305 jutaan dari sebelumnya 328 jutaan…..yup turun 22 jutaan. Yahhh mungkin biar bisa bersaing melawan Jazz ataupun Yaris mengingat harga Mazda 2 memang termasuk nggilani tinggi untuk ukuran city car. Tapi IWB sih sayangkan karena biarlah Mazda tetap berdiri pada tempatnya sebab justru disanalah kelebihan Mazda…iyo ora cak…

Last….Mazda memang termasuk mobil premium mengingat harga sparepart yang luar biasa di atas rata-rata untuk ukuran mobil Jepang. Tapi semua memang terbayarkan dengan kepuasan yang kita peroleh. Mazda 2 Skyactive ? asli IWB tidak menyangka ternyata mobil sekecil ini menyenangkan digunakan di luar kota. Wis ah IWB mau cari sego pecel sik…salam wong ndeso juozz gandozzz !!! (iwb)

 

Advertisements