iklan iwb
iklan iwb
” Jepretan Johan Zarco dalam pit KTM….lelah bener cak “

Iwanbanaran.com – Matanya nanar dan kosong. Wajah lelah terlihat jelas dari pembalap KTM Johann Zarco yang nampak begitu tertekan dan frustasi. Sebuah foto yang dishare oleh salah satu media Perancis Lequipe.fr ini juga menjadi bahan analisa yang sangat menarik, betapa sulitnya mesin KTM dibanding Yamaha. Semua cara dilakukan namun apa daya, ketika skill dipasung motor, akhirnya Zarco menyerah. Sebuah keputusan yang menghancurkan karirnya di Motogp terpaksa diambil Zarco untuk membangkitkan kembali passionnya yang sudah mulai memudar akibat performa yang tak kunjung membaik…..

Tidak diragukan Johann Zarco adalah pembalap berbakat. Pembalap yang lahir di Prancis 29 tahun silam tersebut menjadi pusat perhatian ketika doi sukses masuk runner-up di senior Mini European Championship pada tahun 2006. Johann zarco juga berhasil menyelesaikan kompetisi Red Bull Rookies Cup di tahun 2007 dan sukses menjadi juara setelah memenangkan 4 races tahun itu. Kemudian Zarco melakukan debutnya di ajang paling bergengsi kelas 125cc bergabung dengan WTR San Marino tim..

Balapan terbaiknya tahun itu finish di posisi enam (Mugello). Kemudian pada tahun 2011 Johann zarco ditarik oleh Ajo motor sport dan berhasil finish di posisi dua. Ini merupakan Raihan terbaiknya di kelas 125cc. Karirnya terus berlanjut dan naik di kelas Moto2. Singkat cerita pada tahun 2012 Johann zarco menyelesaikan balapan akhir di posisi 10 dengan 95 poin. Posisi terbaik rookie di tahun 2012. Kemudian setelahnya Zarco pindah ke IODA Project racing bersama tim Suter. Di sini ketajaman Zarco semakin terasah. Doi berhasil finish podium 2 (dua kali) dengan menyelesaikan balapan seri itu diposisi 9. Grafik terus meningkat….

Pada tahun 2014 Johann Zarco akhirnya bergabung dengan Catterham moto racing team. Menggunakan sasis Kalex, zarco langsung melejit dan berhasil sabet 4 podium serta 1 pole position. Pembalap Prancis ini juga berhasil menyelesaikan balapan musim itu di posisi 6 klasemen rider. Dan puncaknya pada tahun 2015 Zarco pindah ke Ajo motor sport team, sebuah tim yang pernah menjadi timnya saat dikelas 125cc. Di sinilah zarco sukses menyabet juara dunia Moto2 berturut-turut selama 2015 dan 2016. Johann zarco berhasil mengoleksi 8 kemenangan pada tahun 2015 serta tujuh kemenangan di tahun 2016. Performa tersebut membuatnya berhasil naik kelas ke MotoGP….

Bergabung di tim Yamaha Tech 3, Johann zarco membuat para pemerhati MotoGP tercengang. Di atas mesin Yamaha YZR M1 zarco sukses leading 2 detik di pembukaan balap Qatar sebelum doi crash pada tikungan ke-2 di lap ke-6. Namun Zarco tetap menunjukkan sebagai pembalap bertalenta Tinggi karena tahun itu pembalap Prancis tersebut berhasil finish di posisi podium 2 di Le Mans. Doi juga berhasil sabet pole position di Assen. Beberapa torehan finish podium juga diukir Zarco seperti Sepang Malaysia serta Valencia Spanyol. Johann zarco menerima penghargaan rookie of the year Awards 2017 dengan finish di posisi terbaik keenam. Luar biasa cak. Sayang segala prestasi tersebut seperti musnah saat Zarco bergabung ke KTM….

Bergabung di tim yang sedang berkembang, Pembalap ini seperti kehilangan sentuhan dan semakin terpuruk tidak mampu bangkit. Bahkan untuk masuk 10 besar pun sulit. Berkali-kali pembalap Perancis ini mengeluhkan karakter mesin KTM yang under stir susah dibelokkan. Selain itu menurutnya setiap saat Doi harus bertarung mengendalikan motor karena karakter dari mesin yang lebih liar dibandingkan dengan motornya masa lalu. Sebuah keluhan yang cukup bisa kita mengerti karena kalau kita melihat rekam jejak Johann zarco pembalap Prancis ini rata-rata dibesarkan dengan mesin 4 silinder Inline. Tidak dengan mesin KTM V4 yang jauh lebih beringas Zarco diasah menggunakan mesin yang memiliki karakter bawah jinak dan terkontrol. Memang itulah kelebihan mesin Inline 4 dibandingkan dengan V4..

Intip saja bagaimana Lorenzo juga kesulitan di atas mesin Honda walau sebelumnya pembalap Spanyol tersebut berhasil menjinakkan Ducati GP18. Lhoo koq sama Ducati nggak? Yesss….Ducati saat ini menjadi motor V4 terjinak di jajaran pasukan mesin V4 Motogp. Menggunakan perangkat ECU magneti Marelli, pabrikan Bologna memang lebih berpengalaman untuk mengoptimalkan perangkat ini diatas trek. Yang kedua adalah frame atau sasis. KTM hingga sekarang masih setia menggunakan frame yang disuplai oleh WP bahkan untuk RC16 sekalipun. Pabrikan Austria dari dulu memang setia dengan model teralis karena menurutnya inilah filosofi pabrikan. Tapi mereka lupa….

Di ajang balap terbaik, filosofi tidak cukup Karena rasa ego justru bisa membuat mereka tidak mampu meraih hasil maksimal. Kondisi serupa juga dialami oleh Ducati yang sebelumnya egois menggunakan frame model Monokok tralis. Bertahun-tahun mereka berjibaku mempertahankan filosofi tersebut sehingga motor Ducati dicap sebagai motor liar yang susah dikendalikan dan understeer. Hingga kehadiran Gigi D’ll Igna merubah semuanya. Frame monocoque trelis Ducati desmo dibuang dengan model parimeter almu frame layaknya motor Jepang. Disokong peraturan baru dengan single ECU menggunakan Magneti Marelli gebrakan tersebut berhasil membuat Ducati menjadi motor yang jauh lebi bersahabat dan mudah dibelokkan..

Last…. karir Johann zarco belum tentu Usai. Bisa saja di masa depan pembalap Prancis ini kembali dilirik dan ditarik bergabung di ajang MotoGP. Namun ingat Johann zarco adalah pembalap yang ditempa dengan mesin 4 silinder Inline baik sejak era Moto2 hingga MotoGP. Oleh karena itu ada baiknya jika seandainya Zarco kembali ke MotoGP,ย  kudu dipertimbangkan gabung ke Suzuki atau kembali ke Yamaha? Untuk yang terakhir potensinya memang cukup kecil. IWB tidak bisa membayangkan jika Zarco nunggang Suzuki GSX RR….pasti hasilnya sangar cak. Pengalaman luar biasa mengingat pembalap ini sudah pernah memegang mesin YZR M1 yang tentunya bisa ditularkan ke bagian RND racing Suzuki untuk membuat GSX RR lebih baik. Keren pasti. So…Johan Zarco? melas tenan asli, sabar pakde Zar….(iwb)

Advertisements
    • Dia bingung mau bertahan di kateem mesin gk kompetitif
      Nau balik ke yahaha turun derajat ibarat narik angkot
      MuuuUUUuuuehehe……

  • Coba dibahas cak mengapa suzuki dan zarco gagal bekerjasama, padahal udah sempat tes ride… Apakah karna zarco yg menolak, atau karna suzuki lebih memilih joan mir

    • Bantu jawab :
      Suzuki PHP karena dianggap zarco tua. Malah pilih rins. Nah… Pas zarco bersinar di yamaha… Ada kesan pabrikan suzuki menyesal dulu ga ambil zarco

  • Percayalah…selama KTM MASIH PAKAI TERALIS buat sasis,…NASIB NYA AKAN UNDERDOG TERUS…!!!
    Mesin O.K..SASIS SAMPAH..!!

    • bacot adjah lo tong…urusin noh…dagangan ente! yg dp 0% ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

  • Semoga pindah suzuki likkk iwann ganti bae Joan Mir ๐Ÿ“ข๐Ÿ“ข๐Ÿ“ข๐Ÿ“ข๐Ÿ“ข๐Ÿ“ขโšกโšกโšกโšกโšก๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

  • Jelas cak.. Mesin powerful tp gak diimbangi handling yg mantap juga gak guna.. Motor jd gak balance, susah belok.

  • lagi2 kamu sleding dirimu sendiri pakdee ..yg ngubah chasis teralis ke parimeter itu rossi sebelum gigi….haddeh kirain pintar padahal…
    ah sudahlah…malu akunya di cap bapper

  • Saingan Zarco ssat di kelas Moto2 adalah Alex Rins, dan mereka ketika mau naik kelas Zarco ditawari oleh Suzuki tapi kayaknya Zarco menyepelein Suzuki, Zarco pengennya Yamaha atau Honda, merasa tak dihargai Suzuki undang Alex Rins dan Zarco ngambek, endingnya Alex Rins bersama Suzuki Zarco terpental dari tim Pabrikan,…..Penyesaanl itu memang di belakang klo di depan namanya pendaftaran.

  • dah ikut balapan karung aja zar…
    ntar pas 17 san…mayan lah..hadiahnya? bisa buat beli kerupuk satu tombong..๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† selain itu bisa bersilaturahmi ama orang indo…plus selpi2? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜„

  • Resiko pindah dari motor nyaman ke motor liar. Butuh adaptasi lebih.
    Ada 2 spesies motor di MotoGP. Motor nyaman dan motor liar. Tergantung skil pembalapnya. Juara karena motor nyaman atau juara karena mampu menaklukkan motor menjadi style masing2 juara.

  • Bener kang bro, suzuki paling cocok. Suzuki terlalu underrated, padahal suzuki pabrikan paling top soal mesin IMHO ya