Iwanbanaran.com – Cakkk….merinding namun penasaran, mungkin itulah yang IWB rasakan ketika mengunjungi Benteng Pendem. Benteng yang dibangun Belanda pada tahun 1861 ini masih menyisakan keangkeran sebagai tempat yang menjadi saksi sejarah jaman kolonial abad 18 hingga 19. Ngilu cak…asli ngilu. Apalagi ketika datang kesana banyak sekali bumbu-bumbu mistis termasuk masih seringnya suara pasukan berkuda disekitar lokasi pada jam-jam tertentu. Weittttt……bikin penasaran kieeee…

IWB dan teman-teman Bloggers serta Vloggers diajak Honda mengunjungi tempat bersejarah Benteng Pendem. Benteng era abad 18 yang dibangun Belanda dengan nama¬†Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ini awalnya kurang menarik karena didepan seperti bangunan buatan. Tapi setelah masuk kedalam…baru terasa hawa menyengat sisa-sisa kekejaman jaman kolonial. Sebagai informasi seperti IWB sadur dari Wikipedia…

Benteng Pendem adalah peninggalan Belanda yang berlokasi di pesisir pantai Teluk Penyu kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang dibangun pada tahun 1861. Bangunan ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun di area seluas 6,5 hektare secara bertahap selama 18 tahun, dari tahun 1861 hingga 1879. Benteng pendem sempat tertutup tanah pesisir pantai dan tidak terurus. Benteng ini kemudian ditemukan dan mulai digali pemerintah Cilacap tahun 1986….

Kalau melihat sejarah cak….Benteng ini dulunya berfungsi untuk menahan serangan yang datang dari arah laut bersama dengan Benteng Karang Bolong, Benteng Klingker, dan Benteng Cepiring. Benteng Pendem digunakan hingga tahun 1942. Ketika perang melawan pasukan Jepang, benteng ini berhasil dikuasai Jepang. Tahun 1945, Jepang meninggalkan benteng ini karena kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu sehingga benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah….

Nah…dari sini IWB sempat bertanya pada pak Andi selaku Guide di Benteng Pendem, sampai kapan Benteng ini digunakan TNI?. Doi menjawab…” kalau nggak salah sekitar 1965 mz…” serunya. Setelah itu Benteng luput dari perhatian dan terkubur pasir namun kembali digali untuk dijadikan tempat wisata. Yang IWB lumayan merinding ketika masuk keruang penjara cak. Disini IWB merasakan bagaimana ruangan yang begitu sempit ini hawanya ora enak blassss (video IWB coba lampirkan di IG)…

” Dulu tempat ini pernah dijadikan uji nyali oleh salah satu stasiun TV, tapi nggak ada yang lulus..” seru pak Andi. ” Emang ada apa pak didalam ?” tanya IWB. ” Kalau disini orang tua laki-laki. Tapi nggak ganggu koq..” serunya santai. ” Yang paling kuat di Penjara yang sebelah sana. Disitu wanita, dia sering menangis..” pak Andi terdiam sejenak. Doi seperti tertegun….tampak matanya menerawang jauh. IWB langsung merinding ketika melihat bangunan dari batu bata tua sudah berlumut dan lembab yang diberi label penjara. ” Kasihan sih….wanita tersebut tidak bisa menyelamatkan anaknya yang dipenjara. Penyesalan luar biasa…” tukas pak Andi Lagi. Weleh jebule banyak cerita mistis tenan cak….

Kalau diperhatikan….bangunan benteng pendem terdiri dari beberapa ruang yang masih kokoh hingga kini. Namun, sejak awal ditemukan, ruangan dalam benteng belum sepenuhnya diketahui. Ruangan dalam benteng yang umum diketahui terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru. Ada pula yang menyatakan bahwa dalam benteng tersebut terdapat terowongan menuju benteng-benteng lain dan sejumlah gua di pulau Nusakambangan. Namun, hingga kini hal itu belum sepenuhnya terbukti….

Terowongan sekarang nggak bisa dimasukin karena tertutup air. Kalau maksa masuk tingginya bisa seleher. Sekarang pintu masuk juga ditutup dengan besi. Padahal kalau mau lihat base camp pusat disana.” tutur pak Andi lagi. Hingga IWB dan rombongan akhirnya tiba dilokasi yang cukup tinggi. Diatas ada warung kecil yang tidak ada penjualnya alias tutup. “ Penjual nggak berani terlalu malam buka. Karena setiap menjelang Maghrib sering banget terdengar pasukan berkuda melintas disini. Seperti refleksi masa lalu. Nggak ganggu sih…maksudnya nggak pernah nongol dalam bentuk penampakan. Hanya suara saja…” tutup Pak Andi lagi…

Last…nggak terasa Benteng sudah kita kelilingi dari ujung depan hingga belakang. Sebuah saksi bisu betapa kejamnya jaman kolonial dan betapa beratnya perjuangan para pejuang merah putih masa lalu untuk meraih kemerdekaan. Dan ketika tempat tua masih berdiri tegar, selalu saja cerita mistis mengiringi. Sudah nggak heran cak…sebut saja Lawang Sewu Semarang. Pesan moral artikel ini, mari kita cinta negeri ini dengan sepenuh hati karena kita beruntung tidak lahir dalam era kolonial. Era yang penuh dengan tangis, darah dan nyawa hanya untuk merdeka. Kita ? kadang IWB sendiri sering sedih hanya karena masalah politik bahkan motor antar saudara setanah air sendiri saling maki dengan kata-kata kotor, menghasut, debat kusir tak berkesudahan yang tak segan-segan menggunakan kata menyakitkan tak bertanggung jawab. So….merenunglah, dan mari kita bawa merah putih ini menjadi negeri yang besar, kompak serta menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Salam dari Kustbatterij op de Landtong te Cilacap¬†!! (iwb)

 

Advertisements