iklan iwb
iklan iwb

Iwanbanaran.com – Pakdeee….wong Urip kui banyak lakonnya. Orang hidup seperti sebuah kisah atau drama yang harus kita jalani dengan penuh ketulusan. Namun Adakalanya kita merasa terlalu berat sehingga rasa frustrasi menghinggapi. Semuanya pasti pernah merasakan. Keluh kesah dari para perantau karena tidak berhasil seperti yang mereka harapkan. Padahal kuncinya cuma satu yakni sabar cak. Lhoo tumben cak IWB bahas perkara beginian ?….

Karena banyak sekali teman IWB yang akhirnya menyerah dengan kondisi ibukota. Alasannya satu, sudah merantau dan bekerja bertahun-tahun…namun tidak ada perkembangan. Rata-rata mereka merasa gaji tidak cukup mengingat hidup di ibukota memang membutuhkan biaya sangat tinggi. Ada lagi yang hanya bisa ngedumel serta mengeluh tanpa mampu berbuat banyak. Kenaikan gaji satu tahun  hanya 150.000-200 ribu. Padahal harga tempe tahu selalu naik setiap saat. Mau resign?…arep kerjo nang endi?. Abot rek…

Itulah gambaran orang merantau. Jadi ojo mikir merantau ki enak…ora cak. Memang Disadari atau tidak tayangan TV yang begitu indah tentang ibukota membuat banyak orang desa terkesima dan memiliki impian muluk-muluk untuk memperbaiki nasib. Ora usah jauh-jauh, IWB dulu pernah merasakan. Merantau dan pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 1999 sempet dibuat bengong. Tayangan sinetron yang begitu glamor tidak terbukti.  Gedung pencakar langit hanya hiasan semata. Kebetulan mendarat di Jakarta langsung mendapatkan kos-kosan di sekitar karet tengsin Tanah Abang. Di lingkungan yang bisa dikatakan sedikit kumuh dengan banyak preman di sekitar lokasi membuang imajinasi indahnya ibukota. Dlongop cak….

iklan iwb

Di sana IWB merasakan beratnya mencari uang. Datang ke ibukota hanya bermodalkan dengkul. Bonek judule. Tidak punya sanak saudara ataupun teman kenalan. Sebab semua kerabat IWB berada di Jawa Timur. Gaji yang bisa dibilang tidak terlalu besar dijaman itu sehingga untuk makan dan ngekos wae entek. Kalau nggak salah dulu gaji sekitar 625 ribu/bulan. Semua IWB jalani selama bertahun-tahun. Dan seiring waktu berjalan gaji juga naik pelan-pelan. Tapi untuk membeli sebuah motor belum mampu pakde. IWB harus menunggu 4 tahun setelah itu atau tepatnya ditahun 2002 IWB baru mampu membeli motor pertama dari gaji sendiri. Itupun kredit rekkk. Kontan ?. Ora mampu kangbro. Kuwi senenge wis ora umum…

” IWB sekitar tahun 2001 di Tanah Abang Jakarta Pusat. Hidup serba sederhana……”

Menggunakan DP uang muka 3,5 juta dengan angsuran sekitar 726.000 per bulan untuk 3 tahun (IWB sampai masih ingat) membuat IWB semangat kerja. Sebuah motor Honda Megapro yang jika dibeli secara cash berkisar 14,8 jutaan rupiah pun menemani IWB bekerja. Saat ngangsur?. Walahhh cakkk..senin kamis. Ngangsur motor sudah kayak megap-megap saking beratnya. Apalagi tahun itu IWB baru menikah dan setahun setelah itu ibu negara hamil anak pertama. Jadi segala kebutuhan rumah tangga bertambah. Padahal gaji stagnan naik hanya satu tahun sekali.  Namun semua IWB jalani dengan tulus ikhlas serta selalu bersyukur….

Kalau sampeyan diperantauan memang kudu siap mental lahir batin. Mau perih, seneng, seret, lancar harus disyukuri. Yang kedua bekerja tanpa patah semangat dan berusaha mencari kesempatan. Jangan terima dengan hanya satu bidang. Sampeyan harus multi talent. Dan yang terpenting adalah…berjuang tanpa kenal lelah. Lalu kunci utama lain, sisihkan yang bukan hak kita 2,5 % untuk zakat. Sepahit apapun, salurkan karena kalau enggan melakukannya membuat rejeki kita seret. IWB nggak bermaksud memberi khutbah….

Tapi percayalah, janji sang khalik tidak pernah ingkar. IWB sudah membuktikan (wallahualam). Ora ono cak ceritane wong kere mergo zakat ki nggak ada. Yang ada rejeki malah datang dari segala penjuru nggak disangka-sangka setelahnya. Tapi jangan juga melakukan zakat karena berharap mendapatkan gantinya…kuwi juga ora bener juga. Jadikan zakat sebagai kewajiban untuk membersihkan uang yang kita terima. Insyallah barokah dan semakin tenang hidup kita….

Last…bohong kalau Ibukota menawarkan hidup yang langsung instan membuat kita banyak uang. Kecuali sampeyan anaknya pejabat, lain cerita cak. Tapi ingat, mereka-mereka yang terbiasa mendapatkan uang dari orang tuanya, biasanya lebih rapuh. Namun jika sampeyan bisa sukses diperantauan dengan hasil jerih payah dan keringat sendiri, kuwi yang manis semanis kembang desa. So..buat teman-teman IWB diperantauan. Jangan patah semangat, terus singsingkan lengan baju walau pahit dan getir menghadang. Sebab setiap tindakan positif kita, sang khalik selalu mantau dengan seksama. Bekerja keras, berdoa, mencari rejeki yang halal dan selalu bersyukur. Salam perantauan, satu aspal dan juozzz gandozzzz. Semangatttt ! (iwb)

iklan iwb
Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!