iklan iwb
iklan iwb

Iwanbanaran.com – Kangbro….banyak yang memuja dan percaya bahwa motor listrik adalah motor paling ramah lingkungan. Namun ternyata tidak semua setuju dengan opini tersebut. Bahkan opini sisi bahaya motor listrik dari kacamata ahli dijabarkan dengan sangat mendalam. IWB anggap ahli karena opini ini datang dari salah satu vehicle design engineer di PT SSE Defence, Tangerang yang ternyata juga pembaca setia IWB. Nah….memang apa sih sisi bahaya motor listrik?….

Cak Achmad seorang vehicle design engineer di PT SSE Defence, Tangerang secara khusus mengirim opininya ke warung IWB perihal motor listrik jika diproduksi secara masif didunia. Opini menyoroti sisi bahaya motor listrik yang menurutnya bukanlah solusi. Btw siapin cemilan cak soale bakal duowoooo ki. Cekidot kangbro….

Assalamualaikum wr wb

iklan iwb

Salam kenal mas iwan, saya R Achmad Haryadi, saya vehicle design engineer di PT SSE Defence, Tangerang. mungkin mas Iwb nonton upacara 5 oktober hut tni lalu, kalau lihat kendaraan yang dinaiki Pak Jokowi saat inspeksi, itu salah satu buatan tempat kami.

Saya sekedar ingin curhat, karena saya secara pribadi merasa bahwa jalur yang ingin diambil oleh ESDM ini sangat salah.

Anyway, saya sudah lama sekali menjadi silent reader IWB, TMCBlog dan Indobikermags. tapi saat kemarin2 mas IWB, TMCBlog mengeluarkan artikel tentang kendaraan listrik sebagai masa depan, saya boleh dibilang sangat kurang setuju. jauh sebelum artikel mas keluarkan, saya telah mengikuti pergerakan-pergerakan dunia otomotif, khususnya setelah polemik emisi Diesel yang dimulai dari VW di 2015, yang bisa dibilang inilah awal mula dari orang-orang khususnya di amerika dan eropa berbondong-bondong lari (mencuci tangan) dengan program mobil Listrik, yang akhirnya berujung dengan Perancis, Inggris mengatakan bahwa tidak akan lagi mereka pada 2040 membolehkan penjualan kendaraan non-ELECTRIFIED (Ini pun bukan berarti full mobil listrik, karena Bensin/Diesel Hybrid sudah termasuk kategori ini).

Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan, kenapa saya tidak setuju. Pertama, Kendaraan Listrik selalu dianggap lebih dan paling “Hijau”. ini merupakan statement yang menyesatkan, karena hal ini hanya melihat dari sudut pandang bahwa kendaraan listrik tidak mengeluarkan asap gas buang.TOK. tidak dilihat lagi dari sisi lainnya. Sisi lain pertama adalah, BATERAI. Produksi baterai dilakukan dengan, penambangan raw material logam seperti Mangan, Cobalt dan Lithium, yang tentu ini berarti masih menggunakan bahan yang tidak terbarukan, lalu pembuatan baterai sendiri pasti akan menggunakan asam untuk memurnikan logam-logam tersebut, seperti HCl.

Memang apabila kita melihat produksi dari kendaraan mesin bensin/diesel juga membutuhkan Baja/Aluminium sebagai material utama, tapi bahan ini adalah bahan yang masih bisa di daur ulang, juga kalau kita mempunyai argumen bahwa sekarang produksi laptop, handphone juga menggunakan baterai yang sama dengan kendaraan listrik, tapi kita harus ingat bahwa baterai di kendaraan listrik jauh lebih besar dibandingkan dengan baterai gadget. sebagai contoh baterai di kendaraan TESLA S, mempunyai bobot kurang lebih 540kg dibandingkan dengan battery gadget yang kurang dari 100g…

Padahal battery gadget pun sudah bertahun-tahun menjadi masalah serius salah satunya di China. Ironisnya di China program yang di majukan untuk kendaraan adalah kendaraan listrik, walaupun jelas polusi di China sendiri lebih banyak dikarenakan pabrik Batterai dibanding dengan polusi kendaraan bermotor. Sisi lain dari masalah ini juga adalah, dari mana kita mendapatkan tenaga untuk kendaraan listrik kita. Di China dan Amerika hal ini juga menjadi pertanyaan, karena mayoritas dari listrik yang dihasilkan adalah dari BATU BARA…

Perlu diketahui bahwa Batu Bara dalam produksinya juga mengeluarkan emisi yang bisa dibilang lebih berbahaya dari emisi kendaraan bermotor. Berdasarkan dari banyak sumberpun, kendaraan listrik yang di charge dengan listrik dari batu bara adalah sama atau lebih parah dari segi emisi dibandingkan kendaraan diesel/bensin. Sekarang apabila kita berkaca kepada keadaan Indonesia saat ini, Pemerintah justru sedang fokus kepada program 10000MW yang mayoritas didalamnya adalah pembangunan PLTU. Kenapa PLTU??..

Karena PLTU adalah proses pembuatan listrik yang paling Efisien dibandingkan yang lain, baik itu dengan Diesel, terlebih turbin dengan CNG. lalu bagaimana dengan SOLAR PANEL, Wind power?. Solar panel, membutuhkan daerah yang sangat luas untuk mengisi listrik, dan hanya dapat dilakukan pada saat tertentu, sehingga tidak bisa continous seperti PLTU, PLTD, PLTG. PLTA, saat ini banyak pula di Indonesia, tetapi tentu permasalahan seperti efek kepada sungai yang dibendung, kemampuan continous running tidak akan seperti PLTD PLTU PLTG, karena bergantung dengan debit air….

Dilain hal permasalahan bisnis, juga menjadi ganjalan kenapa di Indonesia PLTA dan juga Panas Bumi kurang begitu menarik. Lalu, apa masa depan listrik Indonesia? PLTU, PLTG PLTD yang notabene menggunakan bahan bakar gas, batu bara dan diesel. Di saat banyak daerah di Indonesia masih membutuhkan banyak listrik, dan masih banyak pemadaman di Indonesia, kebijakan kendaraan Listrik ini saya yakin adalah suatu BLUNDER. Dan at best adalah sama saja, at worst bisa menimbulkan polemik energi di Indonesia..

Katakan lah pada tahun 2040 penjualan motor di Indonesia adalah 1 juta unit, dengan baterai 10Kwh, dan rata-rata memiliki jarak tempuh 100km, dan setiap hari mereka berjalan 100km. Artinya dibutuhkan sekitar 10juta kwh per hari hanya untuk men charge motor, belum ditambahkan mobil. Apabila mobil ada 1 juta dan berjalan dengan jarak sama dengan baterai 50kwh, artinya pada sehari butuh tambahan 50juta kwh per hari untuk mobil. ditambah lagi kebutuhan per hari gadget dan listrik harian rumah tangga Di Indonesia saat ini pun sudah sangat tinggi..

Apabila ditambahkan dengan kendaraan listrik, tentu sangat berpotensi membuat krisis energi di Indonesia. Lalu apa solusinya?. Kendaraan dengan bahan bakar bensin dan diesel adalah jawabannya. Kenapa?. Kendaraan listrik bukan lah barang baru, ditemukan sejak tahun 1828, lalu kenapa tidak berkembang?. Masalahnya adalah BATERAI. Kendaraan listrik bukanlah kendaraan dengan energi yang dihasilkan sendiri seperti bensin/diesel. Tetapi butuh pasokan dari luar kendaraan, membatasi kemampuan kendaraan untuk bergerak, diluar dari daerah yang sudah terdapat listrik. Disaat banyak daerah di Indonesia masih banyak yang belum terbuka, jelas kendaraan listrik bukan solusi yang tepat untuk masa depan indonesia…

Karena sudut pandang yang kurang tepat, motor bakar menjadi yang disalahkan, padahal solusinya bukan MESIN tetapi BAHAN BAKAR yang baru. Di Indonesia maupun di dunia, sudah bertahun-tahun research tentang synthetic fuel, artinya bahan bakar diesel ataupun bensin yang dibuat bukan dari penyulingan minyak bumi. ini dapat dibuat dari berbagai macam, dari zathropa (biodiesel) hingga lumut (alga). Audi salah satu pabrikan yang pernah bermain dibidang ini, hingga akhirnya krisis diesel datang…

Lalu, apabila memang baterai adalah masalahnya, bagaimana dengan mobil Hybrid, coba dilihat Citroen Air-Hybrid, Hydraulic Hybrid, adalah contoh dari hybrid yang sama sekali tidak menggunakan motor listrik, melainkan motor pneumatic/hydraulic. Citroen Air-Hybrid bisa mencapai 2l/100km, dengan kendaraan peugeot 208 dan citroen c4 cactus, sangat kompetitif dibandingkan hybrid listrik. Lalu untuk motor?. Ada salah satu teknologi yang sudah lama dikembangkan tetapi tidak banyak dilirik adalah….

Compressed Air atau Udara berkompresi tinggi. Seperti halnya tanki untuk penyelaman, salah satu prototype yang sangat baik adalah dari Australia di 2012 yaitu O2Pursuit, dengan menggunakan Engine air. Motor ini dapat mencapai 100km dengan tanki full dan kecepatan maksimal 140kmh. Dan berbeda dengan motor baterai yang harus dicharge lama, motor ini cukup diganti tanki saja, dan pengisian tanki udara sendiri di indonesia sudah sangat banyak. Bayangkan kalau misal kita pakai kendaraan ini, habis tinggal ke tukang pengisian udara. Atau karena tanki udara tekanan tinggi relatif aman, bisa pula diberjual belikan di minimarket misalnya.

Lalu mengapa baterai dan kendaraan listrik menjadi seakan-akan jawaban atas permasalahan di dunia?. Pertama, POLITIK. Saat ini di Eropa menjadi polemik tersendiri tentang masalah Diesel, karena Diesel dahulu adalah juga produk Politik Uni Eropa untuk mengurangi CO2, dan diesel ketika terjadi polemik VW mencurangi pengujian, ini membuat seakan-akan bahwa kendaraan bensin dan diesel sudah mentok, tidak bisa dikembangkan lagi…

Hal ini dimanfaatkan pabrikan-pabrikan mobil listrik untuk promosi seperti Tesla dan Nissan, karena tentu ini simply kesempatan bisnis dan banyak dari orang-orang awam kepalang beranggapan bahwa mobil listrik itu adalah solusi masa depan, termasuk POLITIKUS. Umumnya mereka yang berhaluan kiri atau Liberal, karena biasanya mereka ditunggangi oleh Environmentalist seperti green peace. Dan ini pun di ikuti banyak pabrikan EROPA, karena mereka ingin cuci tangan dari masalah ini….

Padahal, kalau kita melihat pabrikan TOYOTA, MAZDA, GENERAL MOTORS, JAGUAR LAND ROVER, ASTON MARTIN, BMW mereka masih yakin bahwa mesin motor bakar masih akan ada hingga puluhan bahkan ratusan tahun lagi, karena masih banyak yang bisa di Improve. Kedua, BISNIS…

Banyak dari mereka yang sudah membuat mobil listrik mempunyai saham di produksi baterai. Tentu kalau mereka cabut rugi lah. Memang ada pula pabrikan yang melihat bahwa mesin motor bakar adalah masa depan itu pula adalah keputusan Bisnis, tapi tentu ini jauh lebih wise, karena membuat infrastruktur untuk kendaraan listrik pun menjadi permasalahan karena mahal dan untuk mencapai tingkat seperti motor bakar sekarang, waktunya dibutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun, itupun tidak akan maksimal, karena pasti banyak dari kendaraan lain butuh motor bakar pula…

Adapun permasalahan lain dari kendaraan listrik adalah, bagaimana dengan pesawat terbang?. Pesawat terbang sangat strict dengan yang namanya bobot, dan jelas untuk mencapai jarak dan kecepatan yang bisa dicapai pesawat saat ini, sangat tidak mungkin dicapai dengan elektrik-baterai, karena akan terlalu berat, berat menghasilkan drag, dan drag mengurangi jangkauan dan kecepatan pesawat itu pula. Sehingga intinya, battery electric bukanlah solusi dan tidak bisa bersifat universal seperti motor bakar, baik diesel bensin maupun turbin gas…

Apa yang menurut saya paling miris, adalah kebijakan ESDM RI, yang menganut kebijakan diatas, atas dasar “Tren yang berada di Dunia” . Ini adalah kesalahan besar, dan tentu menunjukan bahwa Pemerintahan khususnya ESDM masih belum yakin dengan kemampuan diri kita sendiri. Disaat Indonesia saat ini semakin menjadi negara yang disegani dan ekonominya semakin sangat kuat di dunia (perlu diketahui saat ini Indonesia adalah ekonomi terkuat ke 8 di dunia, sehingga masuk G8). Alangkah baiknya negara kita ini memiliki kebijakan sendiri tanpa harus kita mengikuti di luar, karena dalam hal energi, kebijakan di Indonesia haruslah mengikuti KEBUTUHAN dan KEMAMPUAN dari Indonesia sendiri bukan mengikuti negara lain di dunia…

Dalam kemampuan alternative fuel apakah Indonesia siap?. Riset alternative fuel sudah bertahun-tahun, salah satu yang saya secara pribadi telah lihat adalah di SBRC-IPB (Surfactant and Bioenergy Research Center-Institut Pertanian Bogor) yang telah bertahun-tahun research untuk hal alternative energy ini. Dan saya yakin di tempat lain banyak hal serupa yang dilakukan, tetapi sayangnya dukungan dari pemerintah sangat kurang. Sekian dari saya, mohon maaf kalau membingungkan atau ada salah mungkin bisa di koreksi.

Terima kasih

R Achmad Haryadi Vehicle design engineer di PT SSE Defence

Luar biasa cak opininya. Semua dijabarkan dengan runut dan masuk logika. IWB sampe manthuk-manthuk ora wis-wis. Berbobot tenan ki opini dan penjabarannya. Dan IWB setuju cak sebab sebenarnya IWB juga pernah  diskusi dengan salah satu pejabat tinggi Jepang  fokus masalah baterai untuk motor listrik. Teknologi baterei sekarang memang masih menjadi tantangan tersendiri. Selain tidak bisa didaur ulang, ukuran yang besar dan berat belum terpecahkan. Entahlah jika 20 tahun lagi bakal ada penemuan baru. Namun menurut cak Achmad tetap butuh waktu bisa 100 tahun lamanya (bisa lebih) untuk membuat mesin listrik setangguh mesin BBM. Nah….kalau menurut sampeyan sendiri piye, punya opini lain soal motor listrik….?(iwb)

Follow Iwan Banaran untuk dapat aktivitas terbaru segala tentang motor di Moladin, aplikasi pernak pernik motor

iklan iwb
Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!