iklan iwb
iklan iwb

Iwanbanaran.com – Kangbro…30 tahun lalu, masih terngiang ditelinga IWB penuturan dari mendiang nenek. Saksi hidup masa perjuangan…pahit getir jaman yang beruntung kita tidak merasakan. Dentuman meriam dan desingan senjata disertai sirene dimalam hari tanda semua harus berlindung. Taruhannya nyawa demi kemerdekaan. Sebuah cerita masa kecil nenek yang ternyata sukses mempengaruhi IWB bahwa untuk meraih kemerdekaan tidaklah mudah sebab darah, tenaga, pikiran dicurahkan pada satu tekad dan tujuan yakni….kemerdekaan !!!!!!

iklan iwb

Masih teringat ditahun 1980an, raut muka almarhum nenek yang coba menceritakan masa-masa perjuangan. Tidak ada makanan memadai. Semua penduduk harus makan singkong kering kalau bahasa Jowonya Gaplek. Setiap malam saat jaman perjuangan….badan yang sudah keringpun harus rela tidur dilantai tanah liat rumah agar tidak terkena peluru nyasar. Pasukan merah putih yang membawa senjata seadanya berusaha memukul pasukan Belanda yang menggunakan senjata lengkap. Dan semua kudu dibayar mahal karena operasi besar-besaran pasti memaksa mundur pasukan merah yang berdampak pada patroli dari kampung kekampung …

Yang paling menegangkan menurutnya adalah ketika razia pasukan Belanda mencoba masuk kekampung-kampung. Mereka ngecek tiap telapak tangan para pemuda petani. Menurut nenek, ada tanda dan ciri khusus yang akan diketahui apakah petani tersebut murni petani atau hanya menyamar. Sebab kalau megang cangkul….akan beda polanya dibanding bawa senjata. Dan memang saat itu banyak pemuda pejuang yang membaur dengan petani karena seringkali mereka melakukan perang gerilya….

” Sebagai pembalasan atas tewasnya 25 prajurit Inggris, panglima tentara Inggris Letnan Jenderal Philip Christison memerintahkan pembakaran desa di Bekasi, yang dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 1945 dan memaksa warga Bekasi untuk mengungsi. Doc Imperial War…”

Pernah le….ono menir Londo teko pas mbah ngususi beras. Serdadu loro….moro-moro mandeg nang sumur. Omonge goleki pejuang. Untunge mbahmu wektu kuwi ora ono nang omah. Mbah wis rasane ora karu-karuan. Alhamdulillah menir ngaleh ora balik maneh (pernah nak….ada serdadu belanda datang saat mbah mencuci beras. Ada dua serdadu Belanda datang dan tiba-tiba berhenti di Sumur. Katanya cari pejuang. Untungnya kakekmu nggak ada dirumah. Nenek sudah nggak karu-karuan rasanya. Alhamdulilah serdadu Belanda pergi )..” seru nenek….

Almarhum kakek IWB memang pejuang 45. Didikan kerasnya bahkan terbawa hingga akhir hayatnya. IWB masih ingat…saat IWB kecil, pulang sekolah sepatu ditaruh sembarangan, wihhhh bisa dimarahin sampe elek pokoke. Harus ditaruh ditempatnya, tidak ada toleransi. Sebuah refleksi mental yang digembleng dimasa penjajahan. Disiplin, keras dan pantang menyerah. Dimasa itu, ketika sirene melengking…wajib semua langsung berlindung. Kendati sampeyan sedang tidur nyenyak ditengah malam, ora perduli cak. Kenapa?…

” Dua pejuang kemerdekaan yang tertangkap pasukan KNIL dan Belanda semasa Aksi Polisionil I di wilayah Bandung, 26 Juli 1947..”

Sebab ketika sirene berbunyi, biasanya diiringi dengan kedatangan pesawat-pesawat pengembom Belanda. Makanya tiap malam selama bertahun-tahun, tidak ada ketentraman karena hati selalu was-was. Tidak ada ketenangan kangbro, namun yang ada ketakutan. Btw….lokasi rumah nenek IWB berada di Kalangbret Kauman Tulungagung. Sebuah nama yang sempat dilewatin Jenderal Sudirman melakukan perang gerilya dimasa itu. Dan kalau berjuang…berbulan-bulan para suami tidak pulang. Sebagai istri pejuang, tidak ada harapan apapun kecuali pasrah dan berharap suami kembali pulang dengan selamat….

Sayang….seringkali hanya nama yang mereka terima karena suami tercinta gugur ditengah pertempuran. Pengorbanan luar biasa dengan cita-cita satu….bisa mengibarkan bendera merah putih dan berdiri dikaki sendiri. Demi merah putih….dagu tetap diangkat dengan meneriakkan kalimat…” Merdeka atau Mati…”. Sebuah slogan hingga cita-cita itupun datang ditanggal 17 Agustus 1945 dikumandangkan Proklamator kemerdekaan Soekarno Hatta. Lepas dari penjajahan selama 350 tahun lamanya. 3,5 abad alias hampir 6 generasi lamanya…..

” Sekolah Pribumi di Jawa tahun 1920..”

Sayang….cita-cita untuk berdiri dikaki sendiri masih jauh dari harapan. Kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para pejuang 45 belum mampu dirasakan secara utuh oleh rakyat Indonesia. Pengorbanan darah, jiwa dan raga tidak dihargai oleh generasi penerus yang seperti lupa bahwa berdirinya negeri ini seharusnya utuh bisa dinikmatin oleh anak bangsa. Korupsi seperti penyakit kronis yang menggerogoti negeri ini. Banyaknya adu domba dan fitnah menjadi bukti bahwa rasa nasionalisme dan mencintai negeri hasil perjuangan para pejuang kita semakin luntur….

Kita dengan mudah diadu domba. Kejamnya, mereka yang memiliki tujuan tertentu seperti jingkrak kegirangan dan terus menggunakan isu suku, sara dan agama hanya untuk memecah belah demi kepentingan golongan. Miris cak…..sedih kalau IWB melihat jaman sekarang dan mencoba membandingkan raut muka almarhum nenek saat menceritakan jaman perjuangan. Harapan pribadi, semoga pada hari kemerdekaan RI yang 72 ini akan mengembalikan persatuan dan kesatuan anak bangsa seperti saat mereka dulu bersatu meraih tujuan yang sama yakni untuk untuk negeri ini. Lupakan perbedaan karena darah kita semua sebenarnya sama yakni…merah-putih !!!!. Dirgahayu ke 72 tahun negeriku tercinta……merdekaaaaa !!!!! (iwb)

Rumah penduduk dibakar untuk tidak memberikan ruang pada para pejuang bergerak

Tank Sherman dikerahkan di Bekasi untu mengejar posisi para pejuang yang melakukan perang gerilya (1945)
” Jendral Sudirman bersama Letkol Soeharto….”

iklan iwb
Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!