iklan iwb
“IWB, Udin, Desy, Tomie dan Berlian (sekarang jadi istri Tomie )”

Iwanbanaran. com – ” Nahhhh?.iki bocah mau soko duwur banterr banget ugal-ugalan. Bener iki bocahe?ora salah maneh (nahhh ini bocah tadi dari atas memang kenceng bener naiknya ugal-ugalan. Nggak salah lagi ini anaknya…?) teriakan sebuah suara dari belakang IWB disela kerumunan. IWB langsung menoleh dan?darahpun seperti turun ke bawah kaki. Lambe mangap alias dlongop. Waaaahhh?.jebule polisi cakkkk. Bongko tenan lek iki reekkkkkk !!!!…

Panas pipi serta rasa ngilu didengkul dan siku seperti hilang rasa saat melihat pak polisi datang kangbro.?IWB mung iso bengong tanpa mampu berbuat apapun. Posisi badan masih terduduk diaspal karena kepala juga kliyengan. Tidak jelas berapa petugas yang datang. Saat itu IWB hanya menangkap bayangan Tomie didepan pelupuk mata….

Iyo cak….kesibukan Tomie yang berusaha menerangkan kejadian sesungguhnya. Asli….tiap detik berjalan cukup lama. IWB hanya bisa menunggu dengan badan lunglai. Entah berapa lama IWB tenggelam dalam lamunan hingga tiba-tiba wajah Tomie sudah didepan mata. “Cilokooo pekkk…cilokoooo..“serunya membuat mulut IWB langsung mangap……

iklan iwb

Nyapo pekk, apane sing cilokooo??. Piyeee??..”tanya IWB lirih. “Ojo nggarahi jantungen kowe ki pekkk (jangan bikin jantungan kamu tuh) “uber IWB lagi. Wajah Tomie seperti mayat hidup cak. Pucat pasi dan kebingungan. Wahhh….ora beres ki kayaknya. Sambil menahan nafas dalam doipun akhirnya menjawab. “Motor disita polisi pek…modiarrrr aku. Iso dijantur (gantung red) bapakkuu iki pekkkk…” tukas Tomie membuat IWB makin lemes….

Lemes dalam segala hal yang pasti. Lemes badan, pikiran dan dana. Sudah bisa dipastikan untuk mengurus semuanya akan membutuhkan biaya besar. Lhaaa duit gambar cakil opo secara uang saku jaman segitu cuma seimprit. Ditengah kekalutan tersebut…motor Tomie malah raib digotong petugas. Hanya tertinggal kami serta warga yang berusaha menolong ala kadarnya. Terus iki mulihe piyeeeeee?. Jenenge jian sengsoro dobel kwadrat ki hiks hiks….

Tidak ada jalan lain…kitapun memutuskan pulang menggunakan angkot. Lawong jarak rumah dari tempat kejadian masih sekitar 50 km. Kerumah sakit??. Ora cak….kepalang tanggung karena kita nggak mau ketahuan bolos sekolah. Selain itu disaku tidak ada uang sama sekali. Kereee judule rek. Yang tidak kalah menyiksa saat detik-detik dalam angkot. Cedera pipi makin terasa ngilu dan panas. Dengkul dan siku berlubang dengan seragam sekolah jebol dedel duwel membuat mata penumpang lain memandang aneh. Jaran kepang tenan kiii. Seandainya bawa sarung IWB pasti tutupi muka tuh. Isinnn cakkkk…

Singkat cerita kamipun sudah tiba di Tulungagung sekitar jam 4 sore. Masalah pertama….IWB harus mencari alasan jitu agar bokap tidak murka. Akhirnya ditengah kekalutan….IWB dan Tomie punya ide. “Kek….alasan tibo (jatuh) nang alun-alun wae. Pas mulih sekolah rebah miring ban ngarep (depan) ngesot kenek pasir aspal. Piye?“cetus Tomie. Weleh….jiann utek bandit memang canggih tenan ki. Logis dan masuk akal (btw jangan dicontoh cak, ora bener blas soale :mrgreen: ). Setelah sepakat, IWB-pun digelandang pulang ke rumah. Bokap terkejut melihat kondisi IWB yang memprihatinkan. Jantung dag dig dug ora karu-karuan. “Lhooo…nyapooo kii koq bundas kabeh?? (kenapa koq luka semua?)” selidik bokap penuh curiga…..

Apes tenan cak. Wis luka nggak disentuh untuk diobati…..batin tertekan ketakutan setengah mati. “Anu pak….jatuh dialun-alun saat kenceng motor terlalu miring..”jawab IWB gemetar. Bokap langsung tertawa. “Awakmu tibo ora gawe teknik. Tibo ki awak digelindingno ben ora babar bunyak. Tibo nang aspal ojo dilawan….entek wis dengkul karo sikut (kamu jatuh nggak pakai tehnik. Kalau jatuh badan digelindingin saja biar nggak luka. Jatuh diaspal jangan dilawan…habis tuh sikut dan dengkul”)..”tukasnya santai. Jawaban yang membuat IWB ingin jambak rambut sendiri sekaligus lega. Lha piye…..

Komennya santai super enteng tenan dari bokap. Dlosor koq pakai mikir sik. bener sih memang kalau kita bisa melakukannya. Tapi namanya dlosor pasti spontan….badan bereaksi dan terjadi begitu cepat. Disisi lain IWB sangat lega karena respon bokap ternyata tidak semengerikan yang IWB bayangkan. Akhirnya….setelah melewati perjalanan yang melelahkan…IWB-pun terlelap dirumah. Badan terasa remek IWB rasakan semalaman. Opo maneh besoknya…wisss jian koyok mau prothol kangbro balung……

Last…Tomi sendiri malam itu langsung kembali ke Trenggalek untuk nebus motor. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit karena administrasi?yang dibebankan mencapai 75 ribu…gede cak kuwi. Sebagai gambaran harga bensin perliter kala itu hanya sekitar 725 rupiah. Mrongozzz to. Itu belum biaya untuk memperbaiki motor yang rusak parah. ?Tidak heran Tomie frontal tanpa tedeng aling-aling saat mendapati dompet IWB tanpa isi ketika minta bantuan biaya perbaikan motor. “Pekkk-pekkk…dompet tebel isine koq mung KTP. Ganteng-ganteng koq kere kowee ki pekkk pekkk….“serunya terkekeh. Hasyemmmm makjleb tenan ki :mrgreen: . Yup….sebuah pengalaman tak terlupakan dlosor diatas Honda GL-Max dan akan selalu IWB kenang seumur hidup. Terkenang karena pekok tenan. Piye cak….punya pengalaman serupa kayak IWB oraa?. Hayoo ngakuuu :mrgreen: ……(iwb)

Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!