iklan iwb

Didunia ini tidak ada yang bisa berjalan sendiri. Semuanya bersinergi saling bahu membahu dalam melakukan proses menuju sempurna. Begitu pula sebuah pengembangan Motogp prototype bike. Rider sangat dibutuhkan untuk memberikan input berguna yang kemudian oleh engineering diterjemahkan kedalam motor. Kalau tidak….seperti racikan insinyur Yamaha berikut ini ditahun 2003. Mereka nyaris kehilangan arah sebab kebingungan untuk membuat motor sekompetitif Honda RCV211v….

Diulas oleh Asphalt rubber, desain mengacu pada filosofi Yamaha yakni handling diatas power membuat desain terkesan amburadul. Dual shock Ohlins menopang sasis kemudian knalpot kolong dipaksa lewat jalur tengah…underseat style membuat siprototype terlihat norak. Uniknya…didua sisi dipasang sebuah stabilizer menyebrangi sasis deltabox sikuda besi. Yup…itulah beberapa konsep? yang pernah dicoba oleh engineering Yamaha ketika masa transisi dari 2 stroke engine ke 4 stroke engine ditahun 2003. Dan akhirnya…konsep kembali kearah desain tradisional yakni monoshock dengan knalpot menyamping. Tapi tetap…YZF M1 seperti motor mati tanpa taring hingga kedatangan Rossi merubah semuanya. Dan secara tegas Asphalt rubber menekankan hal ini…….

” It wasn?t until Valentino Rossi came to the tuning fork brand in 2004 that its MotoGP racing fortunes started to change at the Japanese company. Turning the M1 from zero to hero seemingly overnight in the off-season, Rossi?s pedigree for developing bikes secured, with more than a little help from Jeremy Burgess & Co. of course…

iklan iwb

-Asphaltrubber-

Kombinasi Rossi, Burgess dan engineering Yamaha berhasil merubah M1 dari zero to hero. Hasilnya…YZF M-1 menjadi makin cantik secara visual, mumpuni sisi handling dan garang dari sektor engine. Kalau nggak…disinyalir Yamaha tetap akan dipecundangi oleh HRC…..(iwb)

Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!