iklan iwb

Bro…ketika banyak orang sukacita belanja kemal-mal membeli baju baru buat lebaran, ternyata dibelahan sisi lain banyak golongan orang hanya bisa melihat dengan tatapan kosong karena tidak mampu melakukannnya. Kita tidak akan membicarakan tentang tunawisma ataupun gelandangan dijalan yang notabene tak perlu diragukan kesengsaraanya. Melainkan fakta yang terlihat disekitar saya……. rekan kerja dari segi profesi yang biasa kita sebut pegawai swasta. Banyak yang bilang…..wah enak dong jadi pegawai swasta. Jawabannya bisa betul bisa nggak. Betul jika kita menjadi atasan yang sukses. Tidak kalau brother lihat realita lingkungan sekitar.. Mungkin hal ini tak berlaku bagi karyawan yang mempunyai penghasilan serta posisi tinggi. Walau persentase 50:1 komposisinya, profesi ini makin banyak sisi kurang menguntungkan dibanding era 90an dulu. Era masa keemasan para pegawai swasta. Era dimana perlindungan terhadap syarikat pekerja betul-betul diperhatikan. Tapi kini sudah berubah……………

Saya punya teman. Pak Doi namanya. Orangnya sudah lumayan tua. Berumur sekitar 40tahun. Punya anak tiga dan semuanya sudah sekolah. Pak Doi bekerja disalah satu perusahaan outsourcing security. Dan kebetulan hotel kami menggunakan jasa mereka. Keluh kesah ekonominya diceritakan secara gamblang. Usia 40tahun yang harusnya masih seger tapi kelihatan lebih tua dari penampakan wajahnya yang lebih cocok condong berumur 50an tahun. Dari hasil pengakuannya? tiap bulan dia hanya menerima gaji UMR DKI plus uang makan jadi total sekitar 1,2juta. Bikin saya kaget adalah jumlah itu sangat jauh dari apa yang manajemen bayar kepihak perusahaan outsourcing tersebut. Hotel kami membayar kemereka 3juta perkepala. So bisa dibayangkan…1,8juta diembat oleh perusahaan tempat pak Doi bernaung tiap bulannya. Tidak ada asuransi…atau tunjangan apapun. Hanya uniform atau seragam yang melekat ditubuh mereka, itu saja cost yang dikeluarkan oleh perusahaannya. Dengan gaji 1,2 juta hidup diDKI…wah gimana ngaturnya. Bayangin saja tidak sanggup……

Ada fakta lain bagaimana ironisnya nasib pegawai swasta. Saat ini banyak perusahaan yang bisa dikatakan melakukan akal-akalan. Ketika melamar kesuatu perusahaan wajib bagi kita untuk mempelajari profile dan track record manajemennya. Sebab ada beberapa manajemen perusahaan yang bermain kotor. Banyak kasus saat jatuh masa pengangkatan permanen (normalnya 2 tahun setelah kontrak) sikaryawan diistirahatkan dulu dengan dalih operation sedang kembang kempis jadi? tiada pilihan lain selain dirumahkan sampai batas waktu yang tak terbatas. Hingga ketika kita dipanggil lagi penghitungan masa kerja akan kembali dari awal masa kontrak. Tren lain kini rekruitmen karyawan sistem Daily Worker atau harian makin getol dilakukan. Dan ketika kita jadi pekerja harian jangan harap untuk menjadi karyawan tetap. Tipissss sekali harapan. Hal ini menimpa teman saya yang telah tercatat 3 tahun mengabdi pada salah satu perusahaan jasa tanpa pernah ada pengangkatan. Ketika menghadap HRD jawabannya…maaf pak manajemen belum ada rencana untuk menambah karyawan tetap. Pahit memang…..tapi tidak ada pilihan lain. Dengan kondisi yang susah seperti saat ini segalanya harus ditelan mentah-mentah.

iklan iwb

Semua yang saya sebutkan diatas hanya segelintir contoh dari ribuan nasib teman kita diluar sana. Jelas semua untuk saving cost atau bisa jadi supaya dapat untung sebesar-besarnya. Ketika karyawan telah menjadi karyawan tetap perusahaan wajib mengeluarkan THR serta asuransi kesehatan yang tidak sedikit biayanya. So dengan menggunakan outsourcing atau pekerja harian kewajiban itu bisa dihindari. Dan kini semua perusahaan arahnya kesana…yaitu seminim mungkin merekrut karyawan permanen dan diganti dengan dua unsur tersebut. Ironisnya tidak pernah mereka berpikir bahwa para karyawan telah menjadi korban tujuan bisnis mereka. Yaitu nihilnya hak mendapatkan tunjangan kesehatan serta THR. Untung tahun 2010? ini ada posko pengaduan tentang kewajiban perusahaan outsourcing harus membayar THR…sedikit kemajuan walau tidak berarti sama sekali karena status mereka yang bisa diPHK sewaktu-waktu. Jadi jauh dari kata sejahtera. Seharusnya ada payung hukum yang mengatur tentang carut marutnya sistem employment yang ada sekarang. Sayang para wakil rakyat kita malah sibuk mengurusi diri sendiri.? Gimana mau godok perundang-undangan lawong kini berita baru mereka malah kekeh sibuk pengen membangun gedung DPR anyar supaya ada fasilitas sauna, kolam renang? dan tempat rekreasi internal gedung (biaya 1,6trilyun rupiah).? Memprihatinkan…….jadi benar dong adanya. Seperti yang telah di katakan Mr. Hibino salah satu tamu Jepang ditempat saya bekerja bahwa kepekaan pemerintah dalam kepedulian kepada orang kecil sangat kurang plus ditambah sistem ekonomi Indonesia seperti ini, dijamin yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Entahlah….. (iw/01/09/2010)

Suwun sudi sambangi warung sederhana ini. Jangan lupa subscribe agar sampeyan tidak ketinggalan berita tentang roda dua. Salam satu aspal, juoz gandozzz cakkk !!